Sunan Bonang
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.
Silsilah
Terdapat silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad:[rujukan?]
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uradhi bin
Ja'afar As-Sodiq bin
Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad)
Karya Sastra
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.
Apa pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.
Keilmuan
Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan[rujukan?] yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia
Referensi
B.J.O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang, Utrecht: Den Boer
G.W.J. Drewes, 1969, The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
Senin, 19 Maret 2012
Minggu, 18 Maret 2012
DIMENSI KURIKULUM
S. Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, dimana satu dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut yaitu, (1) Kurikulum sebagai suatu ide/ gagasan, (2) Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide, (3) Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis. (4) Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan.
Selanjutnya bila kita merujuk pada dimensi pengertian yang terakhir, maka dapat dengan mudah mengungkap keempat dimensi kurikulum tersebut dikaitkan pengertian kurikulum.
a. Pengertian kurikulum dihubungkan dengan dimensi ide
Pengertian kurikulum sebagai dimensi yang berkaitan dengan ide pada dasarnya mengandung makna bahwa kurikulum itu adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya. Pengertian-pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya:
1) “… the content of instruction without reference to instructional ways or means” (henry C. Morrison, 1940).
2) “ ,,, curriculum is the substance of the school program. It is the content pupils are expected to learn” (Donald E. Orlosky and B. Othanel Smith, 1978).
3) “… curriculum it self is a construct or concept, a verbalization of an extremely complex idea or set of ideas” (Olivia, 1997:12).
b. Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi rencana
Makna dari dimensi kurikulum ini adalah sebagai seperangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan tertentu. Pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya :
1) “… A curriculum is a plan for learning; therefore, what is known about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of curriculum” (Hilda Taba, 1962).
2) “… all planned learning outcomes for which the school is responsible” (W. Popham and Eva L. Baker, 1970).
3) “…the Planned and guided learning experiences and intended learning outcomes, formulated through the systematic reconstruction of knowledge and experiences of the school, for learner’s continuous and will full growth in personal-social competence” (Daniel Tanner and Laurel Tanner, 1975).
c. Pengertian Kurikulum dikaitkan dengan dimensi aktifitas
Pengertian kurikulum sebagai dimensi aktifitas memandang kurikulum merupakan segala aktifitas dari guru dan siswa dalam proses pembelajran di sekolah. Pengertian pengertian kurikulum berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya :
1) “… The curriculum [is a design, made] by all of those who are most intimately concerned with the activities of the life of the children while they are in school. … a curriculum must be as flexible as life and living. It cannot be made beforehand and given to pupils and teachers to install. [Also , it] .. represents those learning each child selects, accepts, and incorporates into himself to act with, in, and upon subsequent experiences.(L. Thomas Hpkins, 1941).
2) [The curriculum is] … stream of guided activities that constitutes the life of young people and theirs elders. [In a much earlier book, Rugg disapprovingly spoke of the traditional curriculum as one” .. passing on descriptions of earlier cultures and to perpetuating dead languages and abstract techniques which were useful to no more than a negligible fraction of our population.” (Harol Rugg, 1947)
3) “All of the activities that are provided for students by the school constitutes its curriculum” (Harold Alberty, 1953).
d. Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi hasil
Definisi kurikulum sebagai dimensi hasil memandang kurikulum itu sangat memperhatikan hasil yang akan dicapai oleh siswa agar sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan yang menjadi tujuan dari kurikulum tersebut. Pengertian-pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, di antaranya :
1) “… a structured series of intended learning outcomes” (Mauritz Johnson, Jr., 1967).
2) “Curriculum is defined as a plan for achieving intended learning outcomes: a plan concerned with purposes, with what is to be a learned and with the result of instruction” (Unruh and Unruh, 1984:96).
3) “Segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam situasi di dalam ataupun di luar sekolah” (Hilda Taba dalam Nasution, Azas-azas kurikulum)
Pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam duni pendidikan dan persekolahan di negara kita, yaitu kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum seperti yang tertera dalam Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
R A N G KU M A N
Berdasarkan pada paparan yang telah disajikan pada kegiatan belajar 1, ada beberapa hal yang dapat dijadikan inti pemahaman, yaitu :
1. Pengertian kurikulum diorganisir menjadi dua, kurikulum adalah sejumlah rncana isi yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang didesain untuk siswa dengan petunjuk institusi pendidikan yang isinya berupa proses yang statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki. Selanjutnya kurikulum adalah seluruh pengalaman dibawah bimbingan dan arahan dari institusi pendidikan yang membawa ke dalam kondisi belajar.
2. Konsep Kurikulum meliputi sebagai substansi yang dipandang sebagai rencana pembelajaran bagi siswa atau seperangkat tujuan yang ingin dicapai, sebagai sistem merupakan bagian dari sistem persekolahan, pendidikan dan bahkan masyarakat, dan sebagai bidang studi merupakan kajian para ahli kurikulum yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum.
3. Istilah kurikulum menunjukan beberapa dimensi pengertian dimana setiap dimensi tersebut memiliki saling hubungan satu dengan yang lainnya. Keempat dimensi tersebut adalah (1) kurikulum sebagai ide, (2) kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide, (3) kurikulum sebagai aktivitas atau sering disebut juga kurikulum sebagai suatu realita yang secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai rencana tertulis, (4) kurikulum sebagai hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulim sebagai suatu kegiatan.
Kutipan
http://ndriizwitsal.blogspot.com/2011/06/dimensi-kurikulum.html
Selasa, 13 Maret 2012
Jumat, 27 Mei 2011
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum Wr,Wb
Puji serta Syukur kita panjatkan kehadirat ILLAHI RObbi yang merajai seluruh alam semesta,yang menciptakan langit dan bumi,,, beserta seluruh isinya.
Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada King Of Islam,yang telah merubah umat manusia dari zaman jahiliah menjadi zaman yg penuh terang benderang dengan cahaya petunJuk yakni Nabi Muhammad saw.
Ucapan terimakasih dari lubuk hati yang terdalam tak lupa kami sampaikan kepada Kepala Sekolah, Bpk. Anwari, serta bapak-ibu guru, yang bersedia membimbing dan mengajar kami para siswa yang bandel dengan penuh ketabahan dan kesabaran.
Serta terimakasih pula kepada OSIS,MPK,yang selalu setia untuk mengadakan sesuatu” yang penuh kejutan,serta Media TABILLAH yang selalu mereview kejadian-kejadian yang mungkin belum sempat diketahui oleh warga MAJESA.
Seiring roda berputar tak terasa begitu cepat waktu ini berlalu selama 3 tahun bersekolah di MAN 1 JEMBER yang akrab disapa Majesa,berbagai ujian telah kita lalui bersama, mulai dari ulangan harian,mid semester,semester,UAM sampai pada titik kulminasi Ujian Nasional.
Album kenangan ini sangat berarti untuk mngenang ingatan yang tersimpan dalam memori hati, sebagai wadah penyambung ukhuwah islamiah dan sebagai koreksi masa depan guna tetap menjaga silaturohmi.
Dalam album kenangan ini tercantum Kita Untuk Selamanya artinya kita tercipta dari berbagai suku dari,jawa,Madura,bali,hingga berbagai pelosok tanah air,, masuk bersama pada 14 juli 2008 dan sampainya kita berpisah pada 31 april 2011 , namun kenangan demi kenangan selalu tersimpan dalam susah,atoupun senang tetap bersimbolkan “Kita Untuk Selamanya” karena saling membaurnya antara makhluk” majesa.
FLasH PhoBiA merupakan aKronim dari “ For Last High School Phoetih Binhur Abu” Nama dari pada Album Kenangan Angkatan 2008/2011,,yang berartikan bahwa album kenangan ini disuguhkan untuk keakhiran masa-masa SMA dengan uniform PutiH abu” dan Almamater setia Binhur,untuk warga majesa.
DemIkian lah sedikit celoteh dari saya selaku KeTuPat dan mewakili teman” panitia Album Kenangan 2008/2011,dan siswa MAN 1 Jember. Apabila ada kesalahan kata,kelakuan,serta ucapan mohon dimaafkan sekaligus beribi-ribu maaf yang hanya bias kami ucapkan kepada Guru-guru terutama,serta OSIS,MPK,dan media Tabillah.
akhirul kalam اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ.
akhirul kalam اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ.
Wassalamu’alaikum Wr,Wb
Ttd,
Kita untuk Selamanya
( FLasH PhoBiA)
Jumat, 30 Juli 2010
Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
* lisan
* tulisan
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
* Angkatan Pujangga Lama
* Angkatan Sastra Melayu Lama
* Angkatan Balai Pustaka
* Angkatan Pujangga Baru
* Angkatan 1945
* Angkatan 1950 - 1960-an
* Angkatan 1966 - 1970-an
* Angkatan 1980 - 1990-an
* Angkatan Reformasi
* Angkatan 2000-an
Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]
[sunting] Karya Sastra Pujangga Lama
[sunting] Sejarah
* Sejarah Melayu (Malay Annals)
[sunting] Hikayat
* Hikayat Abdullah
* Hikayat Aceh
* Hikayat Amir Hamzah
* Hikayat Andaken Penurat
* Hikayat Bayan Budiman
* Hikayat Djahidin
* Hikayat Hang Tuah
* Hikayat Iskandar Zulkarnain
* Hikayat Kadirun
* Hikayat Kalila dan Damina
* Hikayat Masydulhak
* Hikayat Pandawa Jaya
* Hikayat Pandja Tanderan
* Hikayat Putri Djohar Manikam
* Hikayat Sri Rama
* Hikayat Tjendera Hasan
* Tsahibul Hikayat
[sunting] Syair
* Syair Bidasari
* Syair Ken Tambuhan
* Syair Raja Mambang Jauhari
* Syair Raja Siak
Kitab agama
* Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
* Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
* Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
* Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
[sunting] Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
[sunting] Karya Sastra Melayu Lama
* Robinson Crusoe (terjemahan)
* Lawan-lawan Merah
* Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
* Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
* Kapten Flamberger (terjemahan)
* Rocambole (terjemahan)
* Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
* Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
* Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
* Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
* Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
* Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
* Cerita Nyi Paina
* Cerita Nyai Sarikem
* Cerita Nyonya Kong Hong Nio
* Nona Leonie
* Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
* Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
* Cerita Rossina
* Nyai Isah oleh F. Wiggers
* Drama Raden Bei Surioretno
* Syair Java Bank Dirampok
* Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
* Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
* Tambahsia
* Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
* Nyai Permana
* Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
* dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
[sunting] Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
* Merari Siregar
* Azab dan Sengsara (1920)
* Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
* Cinta dan Hawa Nafsu
* Marah Roesli
* Siti Nurbaya (1922)
* La Hami (1924)
* Anak dan Kemenakan (1956)
* Muhammad Yamin
* Tanah Air (1922)
* Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
* Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
* Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
* Nur Sutan Iskandar
* Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
* Cinta yang Membawa Maut (1926)
* Salah Pilih (1928)
* Karena Mentua (1932)
* Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
* Hulubalang Raja (1934)
* Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
* Tulis Sutan Sati
* Tak Disangka (1923)
* Sengsara Membawa Nikmat (1928)
* Tak Membalas Guna (1932)
* Memutuskan Pertalian (1932)
* Djamaluddin Adinegoro
* Darah Muda (1927)
* Asmara Jaya (1928)
* Abas Soetan Pamoentjak
* Pertemuan (1927)
* Abdul Muis
* Salah Asuhan (1928)
* Pertemuan Djodoh (1933)
* Aman Datuk Madjoindo
* Menebus Dosa (1932)
* Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
* Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
[sunting] Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
* Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
* Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
* Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
* Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
* Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
* Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan
* Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)
* Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
* J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)
* Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)
* Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
* Karim Halim
o Palawija (1944)
[sunting] Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
* Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)
* Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
* Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
* Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)
* Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
* Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
* Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)
[sunting] Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
* Pramoedya Ananta Toer
o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)
o Gadis Pantai (1965)
* Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)
* Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
* Mochtar Lubis
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o Tanah Gersang (1964)
o Si Djamal (1964)
* Marius Ramis Dayoh
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)
* Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)
o Ditengah Keluarga (1956)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)
* Ali Akbar Navis
o Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
o Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)
* Toto Sudarto Bachtiar
o Etsa sajak-sajak (1956)
o Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
* Ramadhan K.H
o Priangan si Jelita (1956)
* W.S. Rendra
o Balada Orang-orang Tercinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang (1963)
* Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)
* Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)
* Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951)
* Toha Mochtar
o Pulang (1958)
o Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
o Daerah Tak Bertuan (1963)
* Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)
* Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)
[sunting] Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
* Taufik Ismail
o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
o Tirani dan Benteng
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung
o Kenalkan
o Saya Hewan
o Puisi-puisi Langit
* Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak
* Abdul Hadi WM
o Meditasi (1976)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o Tergantung Pada Angin (1977)
* Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi (1969)
o Mata Pisau (1974)
* Goenawan Mohamad
o Parikesit (1969)
o Interlude (1971)
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o Seks, Sastra, dan Kita (1980)
* Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk
o Lebaran di Karet
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung
* Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala
* Nasjah Djamin
o Hilanglah si Anak Hilang (1963)
o Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
* Putu Wijaya
o Bila Malam Bertambah Malam (1971)
o Telegram (1973)
o Stasiun (1977)
o Pabrik
o Gres
o Bom
* Djamil Suherman
o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Manifestasi (1963)
* Titis Basino
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Pelabuhan Hati (1978)
* Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
o Catatan Putih (1975)
o Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
o Hukla (1979)
* Iwan Simatupang
o Ziarah (1968)
o Kering (1972)
o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
o RT Nol/RW Nol
o Tegak Lurus Dengan Langit
* M.A Salmoen
o Masa Bergolak (1968)
* Parakitri Tahi Simbolon
o Ibu (1969)
* Chairul Harun
o Warisan (1979)
* Kuntowijoyo
o Khotbah di Atas Bukit (1976)
* M. Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
* Mahbub Djunaidi
o Dari Hari ke Hari (1975)
* Wildan Yatim
o Pergolakan (1974)
* Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut (1976)
* Ismail Marahimin
o Dan Perang Pun Usai (1979)
* Wisran Hadi
o Empat Orang Melayu
o Jalan Lurus
Angkatan 1980 - 1990an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
* Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
* Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
* Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
* Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
* Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
* Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
* Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
* Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
* Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
* Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
* Afrizal Malna
o Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
o Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
o Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
o Dinamika Budaya dan Politik (1991)
o Arsitektur Hujan (1995)
o Pistol Perdamaian (1996)
o Kalung dari Teman (1998)
[sunting] Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
* Widji Thukul
o Puisi Pelo
o Darman
[sunting] Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
* Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)
* Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai
* Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2.1: Akar (2002)
o Supernova 2.2: Petir (2004)
* Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)
* Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
o Padang Bulan (2010)
o Cinta Dalam Gelas (2010)
(Catatan: Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas terbit bersamaan dalam satu buku)
* Ahmad Fuadi
o Negeri 5 Menara (2009)
* Tosa
o Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
o Melan Conis (2009)
dikutip dari sumber Wikipedia.com
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
* lisan
* tulisan
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
* Angkatan Pujangga Lama
* Angkatan Sastra Melayu Lama
* Angkatan Balai Pustaka
* Angkatan Pujangga Baru
* Angkatan 1945
* Angkatan 1950 - 1960-an
* Angkatan 1966 - 1970-an
* Angkatan 1980 - 1990-an
* Angkatan Reformasi
* Angkatan 2000-an
Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]
[sunting] Karya Sastra Pujangga Lama
[sunting] Sejarah
* Sejarah Melayu (Malay Annals)
[sunting] Hikayat
* Hikayat Abdullah
* Hikayat Aceh
* Hikayat Amir Hamzah
* Hikayat Andaken Penurat
* Hikayat Bayan Budiman
* Hikayat Djahidin
* Hikayat Hang Tuah
* Hikayat Iskandar Zulkarnain
* Hikayat Kadirun
* Hikayat Kalila dan Damina
* Hikayat Masydulhak
* Hikayat Pandawa Jaya
* Hikayat Pandja Tanderan
* Hikayat Putri Djohar Manikam
* Hikayat Sri Rama
* Hikayat Tjendera Hasan
* Tsahibul Hikayat
[sunting] Syair
* Syair Bidasari
* Syair Ken Tambuhan
* Syair Raja Mambang Jauhari
* Syair Raja Siak
Kitab agama
* Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
* Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
* Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
* Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
[sunting] Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
[sunting] Karya Sastra Melayu Lama
* Robinson Crusoe (terjemahan)
* Lawan-lawan Merah
* Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
* Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
* Kapten Flamberger (terjemahan)
* Rocambole (terjemahan)
* Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
* Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
* Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
* Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
* Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
* Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
* Cerita Nyi Paina
* Cerita Nyai Sarikem
* Cerita Nyonya Kong Hong Nio
* Nona Leonie
* Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
* Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
* Cerita Rossina
* Nyai Isah oleh F. Wiggers
* Drama Raden Bei Surioretno
* Syair Java Bank Dirampok
* Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
* Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
* Tambahsia
* Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
* Nyai Permana
* Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
* dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
[sunting] Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
* Merari Siregar
* Azab dan Sengsara (1920)
* Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
* Cinta dan Hawa Nafsu
* Marah Roesli
* Siti Nurbaya (1922)
* La Hami (1924)
* Anak dan Kemenakan (1956)
* Muhammad Yamin
* Tanah Air (1922)
* Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
* Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
* Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
* Nur Sutan Iskandar
* Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
* Cinta yang Membawa Maut (1926)
* Salah Pilih (1928)
* Karena Mentua (1932)
* Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
* Hulubalang Raja (1934)
* Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
* Tulis Sutan Sati
* Tak Disangka (1923)
* Sengsara Membawa Nikmat (1928)
* Tak Membalas Guna (1932)
* Memutuskan Pertalian (1932)
* Djamaluddin Adinegoro
* Darah Muda (1927)
* Asmara Jaya (1928)
* Abas Soetan Pamoentjak
* Pertemuan (1927)
* Abdul Muis
* Salah Asuhan (1928)
* Pertemuan Djodoh (1933)
* Aman Datuk Madjoindo
* Menebus Dosa (1932)
* Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
* Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
[sunting] Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
* Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
* Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
* Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
* Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
* Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
* Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan
* Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)
* Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
* J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)
* Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)
* Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
* Karim Halim
o Palawija (1944)
[sunting] Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
* Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)
* Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
* Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
* Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)
* Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
* Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
* Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)
[sunting] Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
* Pramoedya Ananta Toer
o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)
o Gadis Pantai (1965)
* Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)
* Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
* Mochtar Lubis
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o Tanah Gersang (1964)
o Si Djamal (1964)
* Marius Ramis Dayoh
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)
* Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)
o Ditengah Keluarga (1956)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)
* Ali Akbar Navis
o Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
o Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)
* Toto Sudarto Bachtiar
o Etsa sajak-sajak (1956)
o Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
* Ramadhan K.H
o Priangan si Jelita (1956)
* W.S. Rendra
o Balada Orang-orang Tercinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang (1963)
* Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)
* Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)
* Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951)
* Toha Mochtar
o Pulang (1958)
o Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
o Daerah Tak Bertuan (1963)
* Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)
* Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)
[sunting] Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
* Taufik Ismail
o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
o Tirani dan Benteng
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung
o Kenalkan
o Saya Hewan
o Puisi-puisi Langit
* Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak
* Abdul Hadi WM
o Meditasi (1976)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o Tergantung Pada Angin (1977)
* Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi (1969)
o Mata Pisau (1974)
* Goenawan Mohamad
o Parikesit (1969)
o Interlude (1971)
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o Seks, Sastra, dan Kita (1980)
* Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk
o Lebaran di Karet
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung
* Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala
* Nasjah Djamin
o Hilanglah si Anak Hilang (1963)
o Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
* Putu Wijaya
o Bila Malam Bertambah Malam (1971)
o Telegram (1973)
o Stasiun (1977)
o Pabrik
o Gres
o Bom
* Djamil Suherman
o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Manifestasi (1963)
* Titis Basino
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Pelabuhan Hati (1978)
* Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
o Catatan Putih (1975)
o Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
o Hukla (1979)
* Iwan Simatupang
o Ziarah (1968)
o Kering (1972)
o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
o RT Nol/RW Nol
o Tegak Lurus Dengan Langit
* M.A Salmoen
o Masa Bergolak (1968)
* Parakitri Tahi Simbolon
o Ibu (1969)
* Chairul Harun
o Warisan (1979)
* Kuntowijoyo
o Khotbah di Atas Bukit (1976)
* M. Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
* Mahbub Djunaidi
o Dari Hari ke Hari (1975)
* Wildan Yatim
o Pergolakan (1974)
* Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut (1976)
* Ismail Marahimin
o Dan Perang Pun Usai (1979)
* Wisran Hadi
o Empat Orang Melayu
o Jalan Lurus
Angkatan 1980 - 1990an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
* Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
* Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
* Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
* Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
* Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
* Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
* Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
* Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
* Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
* Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
* Afrizal Malna
o Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
o Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
o Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
o Dinamika Budaya dan Politik (1991)
o Arsitektur Hujan (1995)
o Pistol Perdamaian (1996)
o Kalung dari Teman (1998)
[sunting] Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
* Widji Thukul
o Puisi Pelo
o Darman
[sunting] Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
* Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)
* Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai
* Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2.1: Akar (2002)
o Supernova 2.2: Petir (2004)
* Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)
* Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
o Padang Bulan (2010)
o Cinta Dalam Gelas (2010)
(Catatan: Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas terbit bersamaan dalam satu buku)
* Ahmad Fuadi
o Negeri 5 Menara (2009)
* Tosa
o Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
o Melan Conis (2009)
dikutip dari sumber Wikipedia.com
Langganan:
Postingan (Atom)