blog

Assalamualaikum Wr Wb
widgeo.net

Jumat, 15 Juni 2012


Rencana Penutupan Lokalisasi Puger

Beberapa tahun yang lalu pemberitaan media massa di Jember diramaikan dengan kebijakan Bupati Jember yangmemutuskan penutupan tempat lokalisasi di Puger. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 188.45/39/012/2007. Menurut Ketua Komite Penyandang Kerawanan Sosial Pemkab Jember H. M Fadhallah sepertidikutip
Harian Surya(20/3/2007),

 penutupan lokalisasi itu sebagai wujud dari Jember sebagai kota religius,sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).Selain alasan panduan RPJMD diatas, Fadhallah mengajukan alasan lain atas keluarnya SK bupati tersebut, yakniPemkab Jember hendak memanusiawikan dan meningkatkan martabat Pekerja Seks Komersial (PSK). Cara yangditempuhnya dengan membekali para PSK itu dengan ketrampilan lain berdasarkan minat yang mereka milikimasing-masing, serta memberikan bantuan modal. Pasca pelatihan, para bekas ³kupu-kupu malam´ tersebut akandimagangkan diperusahaan yang ada, atau diberikan modal usaha untuk memutar model tersebut sebagaikebutuhan hidup selanjutnya.Dari data yang ada, lokalisasi PSK yang ada di Kecamatan Puger, Jember jumlah PSK-nya mencapai 169, denganperincian 111 orang Jember sendiri, 58 sisanya berasal dari luar Jember. Dari jumlah tersebut, 93 PSK bernaungdibawah pengelolaan mucikari.Beberapa PSK menyatakan tak berdaya menolak kebijakan Pemkab Jember tadi. Salah seorang diantaranyabernama Erni (33 th). Pilihan untuk melacur terpaksa dilakukkannya, setelah suaminya meninggal dunia. Sementaradia harus menanggung biaya hidup kedua anaknya. ³Semoga pelatihan itu bukan janji manis semata. Saya berharapPemkab Jember memberikan bantuan modal 25 juta, guna membuka usaha jahit menjahit´, ujar Erni kepada harianyang sama.Namun tidak semua PSK di Puger memilih jalur yang dikehendaki Pemkab. Beberapa diantara mereka tampaknyaakan tetap melanjutkan mencari nafkah dengan tetap menjadi PSK. Penutupan lokalisasi Puger oleh Pemkab,ternyata membawa konsekuensi tersendiri, yaitu praktik prostitus ³liar´. Sedangkan Pemkab Jember belum memilikiantisipasi atas dampak penutupan itu.Sementara di kalangan mucikari, berniat akan bertahan di lokalisasi Puger. Walau mereka sadar bahwa tanah yangmereka gunakan untuk penyewaan kamar bagi para PSK itu adalah tanah negara. Alasannya, penempatan lokalisasidi Puger awalnya juga karena kebijakan dari Pemkab Jember.Sebab sebelum dilakukan relokasi oleh Pemkab Jember pada tahun 1989, lokalisasi awalnya berada di Kaliputih,Kecamatan Rambipuji. Beberapa mucikari bersaksi, dulu sebelum direlokasi ke Puger, mereka memiliki rumah diKaliputih. Karena kebijakan relokasi, maka mereka harus menjual rumah. Di Puger, pemerintah tidak menyediakanrumah baru, apalagi tanah yang ada milik negara. Di tengah keraguan itu, maka para mucikari mendirikan rumah darihasil penjualan rumah yang ada di Kaliputih.

Setelah menempati lahan barunya di Puger, beberapa anggota DPRD Jember pernah berjanji kepada para mucikari,akan memperjuangkan tanah yang mereka tempati itu agar menjadi miliki mereka, dengan dimintakan kepadaPemkab Jember. Seperti lagu lama kalangan wakil rakyat: janji tinggal janji, tanpa realisasi, yang ada bualan kosong.Justru pada tahun 2002, Bupati Jember membuat kebijakan lokalisasi Puger dijadikan Tempat Pelayanan SosialTransisi (TPST). SK bupati ini sebenarnya mengacu pada Perda Nomor 14 tahun 2001 tentang pelaranganpelacuran dan prostitusi di Jember. Melalui SK tersebut, TPST dipersiapkan hingga lima tahun keberadaannya,setelah lima tahun akan ditutup permanen. Dan penutupan permanent TPST Puger ini akan berlaku efektif per 1 April2007.
Sayangnya, saat penetapan lokalisasi Puger menjadi TPST Puger, Pemkab Jember tidak menyertai dengan usahaintegratif yang berkelanjutan bagi para PSK dan mucikari. Mereka tidak diarahkan untuk dapat menempuh jalur laindalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Dari kesaksian para PSK dan mucikari, pemberian bekal ketrampilan yangselama ini dilakukan di TPST Puger berjalan dengan proses gonta-ganti program. Akibatnya banyak kalangan PSKyang belum matang mendapatkan ketrampilan khusus lainnya. Ancaman lain mungkin akan terjadi, yakni kemungkinan persebaran HIV/AIDS di Kabupaten Jember. Sebab dari datayang didapatkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Jember menyebutkan, tercatat 29 PSK Puger telah mengidapHIV/AIDS. Dan ke 29 PSK tersebut belum pernah mendapatkan layanan pengobatan dan konseling. Jika lokalisasiPuger ditutup -ini membuka kemungkinan praktek prostitusi liar- maka proses penularan HIV/AIDS tak dapatdikontrol. Dibandingkan dengan saat mereka berada di lokalisasi Puger, kontrol terhadap pengidap penyakitmematikan itu menjadi lebih mudah.
Sikap Arif 
Kebijakan Bupati Jember ini tampaknya tidak saja membuat para PSK dan mucikari cemas, tetapi juga menimbulkanpolemik di kalangan masyarakat Jember. Koalisi Penyelamat Perempuan yang terdiri dari beberapa organisasiseperti Wanita PKS, KAMMI, Persaudaraan Muslimah, Yayasan Mutiara Bunda, dan Auladuna mendukung kebijakanBupati Jember. Kelompok ini beralasan bahwa penutupan itu dapat meningkatkan harga dan martabat manusia.Semantara
Gerakan Peduli Perempuan (GPP), yang terdiri dari Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak, Koalisi Perempuan Indonesia, Komite Independen Perempuan dan Anak untuk Aksi Sosial, serta
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menolak penutupan lokalisasi Puger. Bahkan polemik ini juga telah mengundang KH Hamid Hasbullah yang selama ini dikenal dengan kiai yang dekat dengan para petani. Ia meminta kepada Pemkab Jember untuk segera merealisasikan penutupan lokalisasi Puger. Namun, Kiai Hamid tetap memberikan catatan kepada Pemkab Jember agar proses penutupan itu disertai dengan pembinaan terhadap PSK secara serius, sehingga para PSK tersebut benar-benar memiliki ketrampilan alternatif untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.Tampaknya penutupan lokalisasi, dengan alasan moralitas semata telah menjadi lagu lama. Dalam banyak kasus diberbagai tempat, penutupan lokalisasi tidak disertai dengan kebijakan lanjutan dengan konsep yang matang,termasuk juga menyerap aspirasi dari kalangan PSK. Jika cara penutupan lokalisasi seperti yang terjadi di Puger ini,maka kemungkinan akan adanya persoalan baru pasca penutupan tidak akan terhindarkan lagi. Persoalan itu sepertisedikit saya singgung diatas, yakni soal munculnya prostitusi liar di banyak tempat. Karena para PSK memilihbersembunyi dan petak umpet untuk menghindari pengawasan aparat negara. Akibatnya, semakin besar potensipersebaran penyakit kelamin dan HIV/AIDS.Jadi, kita harus hati-hati dan bersikap arif dalam membuat kebijakan, tidak sekadar asal tutup. Sebab PSK jugamanusia. Perlulah kita mendengar nestapa batin mereka.*Pendamping Komunitas Sub Altern

Oleh Paring Waluyo Utomo

Senin, 19 Maret 2012

Sunan Bonang

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Silsilah

Terdapat silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad:[rujukan?]

Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uradhi bin
Ja'afar As-Sodiq bin
Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad)

Karya Sastra

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Apa pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.

Keilmuan

Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan[rujukan?] yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia

Referensi
B.J.O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang, Utrecht: Den Boer
G.W.J. Drewes, 1969, The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff

Minggu, 18 Maret 2012

 DIMENSI KURIKULUM 


S. Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, dimana satu dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut yaitu, (1) Kurikulum sebagai suatu ide/ gagasan, (2) Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide, (3) Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis. (4) Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan.
Selanjutnya bila kita merujuk pada dimensi pengertian yang terakhir, maka dapat dengan mudah mengungkap keempat dimensi kurikulum tersebut dikaitkan pengertian kurikulum.
a. Pengertian kurikulum dihubungkan dengan dimensi ide
Pengertian kurikulum sebagai dimensi yang berkaitan dengan ide pada dasarnya mengandung makna bahwa kurikulum itu adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya. Pengertian-pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya:
1) “… the content of instruction without reference to instructional ways or means” (henry C. Morrison, 1940).
2) “ ,,, curriculum is the substance of the school program. It is the content pupils are expected to learn” (Donald E. Orlosky and B. Othanel Smith, 1978).
3) “… curriculum it self is a construct or concept, a verbalization of an extremely complex idea or set of ideas” (Olivia, 1997:12).
b. Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi rencana
Makna dari dimensi kurikulum ini adalah sebagai seperangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan tertentu. Pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya :
1) “… A curriculum is a plan for learning; therefore, what is known about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of curriculum” (Hilda Taba, 1962).
2) “… all planned learning outcomes for which the school is responsible” (W. Popham and Eva L. Baker, 1970).
3) “…the Planned and guided learning experiences and intended learning outcomes, formulated through the systematic reconstruction of knowledge and experiences of the school, for learner’s continuous and will full growth in personal-social competence” (Daniel Tanner and Laurel Tanner, 1975).
c. Pengertian Kurikulum dikaitkan dengan dimensi aktifitas
Pengertian kurikulum sebagai dimensi aktifitas memandang kurikulum merupakan segala aktifitas dari guru dan siswa dalam proses pembelajran di sekolah. Pengertian pengertian kurikulum berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya :
1) “… The curriculum [is a design, made] by all of those who are most intimately concerned with the activities of the life of the children while they are in school. … a curriculum must be as flexible as life and living. It cannot be made beforehand and given to pupils and teachers to install. [Also , it] .. represents those learning each child selects, accepts, and incorporates into himself to act with, in, and upon subsequent experiences.(L. Thomas Hpkins, 1941).
2) [The curriculum is] … stream of guided activities that constitutes the life of young people and theirs elders. [In a much earlier book, Rugg disapprovingly spoke of the traditional curriculum as one” .. passing on descriptions of earlier cultures and to perpetuating dead languages and abstract techniques which were useful to no more than a negligible fraction of our population.” (Harol Rugg, 1947)
3) “All of the activities that are provided for students by the school constitutes its curriculum” (Harold Alberty, 1953).
d. Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi hasil
Definisi kurikulum sebagai dimensi hasil memandang kurikulum itu sangat memperhatikan hasil yang akan dicapai oleh siswa agar sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan yang menjadi tujuan dari kurikulum tersebut. Pengertian-pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, di antaranya :
1) “… a structured series of intended learning outcomes” (Mauritz Johnson, Jr., 1967).
2) “Curriculum is defined as a plan for achieving intended learning outcomes: a plan concerned with purposes, with what is to be a learned and with the result of instruction” (Unruh and Unruh, 1984:96).
3) “Segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam situasi di dalam ataupun di luar sekolah” (Hilda Taba dalam Nasution, Azas-azas kurikulum)
Pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam duni pendidikan dan persekolahan di negara kita, yaitu kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum seperti yang tertera dalam Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
R A N G KU M A N
Berdasarkan pada paparan yang telah disajikan pada kegiatan belajar 1, ada beberapa hal yang dapat dijadikan inti pemahaman, yaitu :
1. Pengertian kurikulum diorganisir menjadi dua, kurikulum adalah sejumlah rncana isi yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang didesain untuk siswa dengan petunjuk institusi pendidikan yang isinya berupa proses yang statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki. Selanjutnya kurikulum adalah seluruh pengalaman dibawah bimbingan dan arahan dari institusi pendidikan yang membawa ke dalam kondisi belajar.
2. Konsep Kurikulum meliputi sebagai substansi yang dipandang sebagai rencana pembelajaran bagi siswa atau seperangkat tujuan yang ingin dicapai, sebagai sistem merupakan bagian dari sistem persekolahan, pendidikan dan bahkan masyarakat, dan sebagai bidang studi merupakan kajian para ahli kurikulum yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum.
3. Istilah kurikulum menunjukan beberapa dimensi pengertian dimana setiap dimensi tersebut memiliki saling hubungan satu dengan yang lainnya. Keempat dimensi tersebut adalah (1) kurikulum sebagai ide, (2) kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide, (3) kurikulum sebagai aktivitas atau sering disebut juga kurikulum sebagai suatu realita yang secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai rencana tertulis, (4) kurikulum sebagai hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulim sebagai suatu kegiatan.


Kutipan
http://ndriizwitsal.blogspot.com/2011/06/dimensi-kurikulum.html

Selasa, 13 Maret 2012

Sudah banyak yang membuktikan sob, coba sobat ayugh liat dulu biar tau dan tidak menyesal nanti, selengkapnya sobat bisa kunjungi :
http://KomisiVirtual.com/?id=happysd , Terimakasih. aquu uda dpet hasilll,,,,, ayugh join,,

Jumat, 27 Mei 2011


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum Wr,Wb
Puji serta Syukur kita panjatkan kehadirat ILLAHI RObbi yang merajai  seluruh alam semesta,yang menciptakan langit dan bumi,,, beserta seluruh isinya.
Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada King Of Islam,yang telah merubah umat manusia dari zaman jahiliah menjadi zaman yg penuh terang benderang dengan cahaya petunJuk yakni Nabi Muhammad saw.
Ucapan terimakasih dari lubuk hati yang terdalam tak lupa kami sampaikan kepada Kepala Sekolah, Bpk. Anwari, serta bapak-ibu guru, yang bersedia membimbing dan mengajar kami para siswa yang bandel dengan penuh ketabahan dan kesabaran.
Serta terimakasih pula kepada OSIS,MPK,yang selalu setia untuk mengadakan sesuatu” yang penuh kejutan,serta Media TABILLAH yang selalu mereview kejadian-kejadian yang mungkin belum sempat diketahui oleh warga MAJESA.
Seiring roda berputar tak terasa begitu cepat waktu ini berlalu selama 3 tahun bersekolah di MAN 1 JEMBER  yang akrab disapa Majesa,berbagai ujian telah kita lalui bersama, mulai dari ulangan harian,mid semester,semester,UAM sampai pada titik kulminasi Ujian Nasional.
Album kenangan ini sangat berarti untuk mngenang ingatan yang tersimpan dalam memori hati, sebagai wadah penyambung ukhuwah islamiah dan sebagai koreksi masa depan guna tetap menjaga silaturohmi.
Dalam album kenangan ini tercantum Kita Untuk Selamanya artinya kita tercipta dari berbagai suku dari,jawa,Madura,bali,hingga berbagai pelosok tanah air,, masuk bersama pada 14 juli 2008  dan sampainya kita berpisah pada  31 april 2011 , namun kenangan demi kenangan selalu tersimpan dalam susah,atoupun senang tetap bersimbolkan “Kita Untuk Selamanya” karena saling membaurnya antara makhluk” majesa.
FLasH PhoBiA merupakan aKronim dari “ For Last High School Phoetih Binhur Abu” Nama dari pada Album Kenangan Angkatan 2008/2011,,yang berartikan bahwa album kenangan ini disuguhkan untuk keakhiran masa-masa SMA dengan uniform PutiH abu” dan Almamater setia Binhur,untuk warga majesa.
DemIkian lah sedikit celoteh dari saya selaku KeTuPat dan mewakili teman” panitia Album Kenangan 2008/2011,dan siswa MAN 1 Jember. Apabila ada kesalahan kata,kelakuan,serta ucapan mohon dimaafkan sekaligus beribi-ribu maaf yang hanya bias kami ucapkan kepada Guru-guru terutama,serta OSIS,MPK,dan media Tabillah.
akhirul kalam 
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ.
Wassalamu’alaikum Wr,Wb
                                                                                                                                    Ttd,
                                                                                                                                                              
                                                                                                                                      Kita untuk Selamanya
                                                                                                                                        ( FLasH PhoBiA)