blog

Assalamualaikum Wr Wb
widgeo.net

Minggu, 30 Desember 2012

FUNAN EMPIRE


2.1 Berdirinya Kerajaan Funan

Funan berdiri pada abad pertama masehi merupakan sebuah kerajaan Hindu purba pertama di Asia Tenggara yang, hal tersebut berdasarkan sumber yang didapat dari Cina. Funan adalah kerajaan yang berasal dari negara Kamboja selatan.
Funan adalah pengucapan Cina untuk kata ‘bnam’yang berasal dari bahasa Khmer kuno yakni ‘Phnom’ (artinya gunung). Di samping menggunakan nama-nama Sanskrit,raja-raja negeri ini juga menggelarkan diri mereka sebagai Sailenraja atau 'Raja Gunung'.Dalam bahasa tempatan ia digelar 'kurung bnam' yang juga bermaksud 'raja gunung'.Bangsa Funan dikenalpasti dari rumpun Melayu. [1]
Wilayah kerajaan Funan meliputi daerah Vietnam Selatan (sekarang) dan Kamboja. Pusat kerajaan berada di Viyadhapura (bandar pemburu), berlokasi dekat bukit Ba Phnomp daerah Pre Veng, Kamboja. Bandar pelabuhannya adalah Oc Eo yang berada di delta Sungai Mekong di pantai teluk Siam.
Menurut berita Cina (yang ditulis oleh Kang Tai yang datang bersama Chu Ying pada abab ke 3 M), kerajaan Funan didirikan oleh seorang Brahmana dari India bernama Kaundinya dari India, yang disebut Hun t’ien dalam bahasa Cina. Ia berhasil mengalahkan penduduk setempat kemudian menikahi putri Liuyeh (Nagisoma), lalu didirikanlah dinasti Funan yang memerintah selama satu setengah abad. Ia mendirikan Funan pada tahun 75 M.
Funan sebagai kerajaan maritim, sehingga sebagian besar pemasukannya bergantung pada kekuasaannya di laut. Funan memiliki armada laut yang sangat kuat, ia berhasil membajak hampir seluruh wilayah perairan di Asia Tenggara. Setiap perahu yang berlayar tinggal memilih menyerah, mati, atau menjadi budak yang diperjualbelikan. Menyerah berarti berlabuh di Funan, membayar bea cukai dan memenuhi segala permintaan para pembesar.
Lambat laun Funan memperluas wilayahnya, Funan juga mendirikan pangkalan serta benteng di seluruh pantai daratan Asia Tenggara. Funan menjadi  suatu imperium yang sangat kuat sejak didirikan pangkalan laut dan benteng. Memasuki abad ke IV sampai ke V, Funan berhasil menguasai seluruh perairan Asia Tenggara. Sementara di perairan Indonesia yang dikuasai Funan, dijadikan sebagai lalu lintas perdagangan rempah-rempah, binatang, dan kayu cendana.
Menurut sejarah Liang, Hunten digantikan oleh putranya Hun Pa Huang yang meninggal pada usia lebih dari sembilan puluh tahun dan digantikan anak lelakinya yang kedua bernama Pan-Pan yang menyerahkan kekuasaannya kepada seorang panglima besar bernama Fan Shih Man (menurut sejarah Chi Selatan). Pan-pan memerintah selama tiga tahun, kemudian digantikan oleh Fan Shi Man. Peristiwa tersebut kemungkinan terjadi pada awal abad ke tiga.
Adapun raja-raja yang memerintah Funan, antara lain ; Kaundinya, Fan Shih Man, Fan Sun, Kaudinnya Jayawarman, dan Rudravarman.
Kaundinya yang dalam bahasa cina disebutkan sebagai Hun-T’ien pendiri kerajaan Funan, dinastinya memerintah kurang lebih selama satu setengah abad. Dijelaskan juga bahwa kaundinya diperkirakan datang dari India, semananjung melayu, setelah sampai didaerah baru tersebut berhasil mengalahkan ratu setempat yaitu Liu-yeh mengawininya kemudian mendirikan dinasti baru yang memerintah satu setengah abad. Menurut Liang History (Hall, 1988:32) seorang brahmana dari India bernama Kiao-Chen-ju (diduga sebagai terjemahan dari nama Kaundinya) secara gaib pergi dan memerintah kerajaan Funan, sayangnya selama pemerinthannya tidak ditemukan angka tahun.
Jayavarman atau Kaundinya Jayavarman, menurut Hall (1988:32) adalah raja terbesar setelah Kaundinya, mengenai kapan mulai memerintah tidak adanya kejelasan, namun diketahui Kaundinya Jayavarman wafat pada tahun 514.
Rudrawarman (didalam bahasa Cina disebut sebagai Fan Shih-Man), Rudrawarman menggantikan ayahnya yaitu Jayavarman tahun 514. Diceritakan dalam Liang History, Rudrawarman sebagai merampas mahkota, ia dilahirkan dari selir  ayahnya, pada waktu ayahnya meninggal, Rudrawarman membunuh pewaris tahta resmi (mungkin Gunavarma) dan kemudian memegang kekuasaan. Pada masa pemerintahannya antara 517-539 ia pernah mengirimkan misinya di Cina.[2]
Fan Shih Man adalah seorang raja sekaligus imperialis yang memiliki banyak vassal. Kekuasannya sangat luas, ia menbangun angkatan laut  yang menguasai perairan Asia Tenggara. Fan Shih Min meninggal dalam ekspedisi penaklukkan kerajaan Chin Li.
Pada masa pemerintahan Fan Sun, Funan mendapat kunjungan dari Cina. Sepanjang pemerintahannya, hubungan diplomasi dengan Cina berjalan baik sampai tahun 287 M. Tetapi rupanya hubungan dengan Cina tidak selalu baik, karena kemudian raja Fan Sun mengadakan perjanjian dengan Fan Hsiung (raja Lin Yi) dari Campa untuk bersama-sama berperang melawan Ciao Ci (Tiongkok). Buku sejarah Cina menyebutkan peristiwa ini bahwa Lin Yi-negara penyerang didirikan oleh Chu Lien yang memanfaatkan kelemahan Dinasti Han (206-221 SM) dengan mendirikan kerajaan sendiri pada tahun 192 SM. Demikian daerah kerajaan Lin Yi lebih dikenal dengan nama ‘Campa’.
Sampai tahun 357 tak ada berita tentang Funan. Dalam berita Cina dikabarkan tentang upeti dari raja Funan bernama Chantan, beragama Hindu. Chantan adalah sebutan Cina kepada gelaran Candan, yakni gelar raja-raja Khusana keturunan Khanishka (India), di mana Funan pernah mengadakan hubungan dengan daerah tersebut pada abad ke 3 M.
Menurut Liang History seorang pengganti Chantan adalah seorang Brahmana dari India bernama Kiao-Chen-Ju secara gaib pergi dan memerintah di Funan. Menurut cerita ia diterima baik oleh rakyat yang memilihnya menjadi raja mereka. Namanya diduga terjemahan Cina dari ‘Kaundinya’.
Dengan demikian dapat ditarik sebuah teori, bahwa raja Funan mungkin berasal dari India (keturunan Khunishka) yang lari ke Funan karena penaklukkan India Utara oleh Samudera Gupta (335-375), raja kedua dinasti Gupta.[3]
Raja terbesar dalam sejarah Funan adalah Kaudinya Jayarman yang meninggal tahun 514 SM. Tidak ada sumber yang menyebutkan kapan raja ini memerintah. Kaudinya Jayawarman adalah adalah raja pertama Funan yang dikenal nama aslinya. Setelah ia meninggal, timbul pemberontakan vassal Funan, yaitu Cenla di bawah raja Citra Sena. Pada tahun 627, masa pemerintahan Isanawarman, Funan disatukan dengan Cenla.

2.2.1 Kondisi Sosial Masyarakat Funan       
                  Cerita ini ada dalam Southern Ch’i History yang  juga berisi catatan tentang kerajaan seperti zaman jayavarman. Ini sebuah gambaran tentang rakyat pengarung lautan, yang menyangkut barang dagangan dan rampasan dan senatiasa menjarah tetangga-tetangganya. Raja bersemayam di istana yang atapnya bertingkat-tingkat, sedang rumah rakyat dibangun atas onggokan dan atapnya dari daun bambu. Rakyat melindungi tempat tinggalnya dengan pagar kayu. Pakaian nasionalnya sepotong kain yang diikatkan di pinggang. Olahraga nasionalnya ialah sabungan ayam dan adu babi. Hukuman adalah berupa siksaan. Raja naik gajah dalam pemeriksaan umum.
             (Liang History) menambahkan bukan hanya raja tetapi seluruh keluarga raja sampai pada selir naik gajah. Dewa langit dipuja. Ini diwujudkan dalam patung tembaga: beberapa   yang dengan muka dua dan tangan empat, yang lain dengan empat wajah dan dengan delapan tangan jelas menujukan pemujaan harihara. Mayat diperlakukan dengan empat cara: dengan melemparkan ke arus sungai, membakarnya, mengubur dalam lubang parit, dan dengan menyajikannya pada burung-burung. Cerita ini juga menjukan adat mandi yang masih diketemukan di kamboja dan dikenal sebagai Trapeang,  penggunaan bak mandi umum bagi sejumlah keluarga.

2.2.2 Kondisi Ekonomi dan Politik Kerajaan Funan
Kerajaan Funan mengalami kemajuan pesat dalam bidang Ekonomi, Kemajuan dalam bidang ekonomi tentunya dalam bidang pertanian dan perdagangan. Funan adalah Kerajaan Agraris yang memiliki pelabuhan sebagai pusat perdagangan dan militer di daratan Indocina. Bukti bahwa Ekonomi Kerajaan Funan mengalami kemajuan yang sangat pesat dapat dilihat dari perkembangan masyarakat Funan yang sebagian mengandalkan bidang pertanian dan perkebunan sebagai mata Pencaharian masyarakat Funan.
            Dalam bidang perdagangan Funan memiliki pelabuhan laut yang sangat kuat dan menjadi salah satu pusat perdagangan yang sangat strategis wilayah  Asia Tenggara dan daratan Indocina. Sehingga menjadi pusat perdagangan pada masa perundagian dan jalur Sutera menjadi salah satu aspek maju dan berkembangnya aktivitas perdagangan diwilayah Indocina dan Asia Tenggara. Komoditi yang terbesar dalam aktivitas perdagangan di Kerajaan Funan antara lain, Gerabah, Keramik, dan barang- barang dari perunggu, yang merupakan pengaruh dari Kebudayaan Dong Son di Vietnam, sehingga secara tidak langsung pengaruh Cina terhadap perkembangan Kerajaan Funan di Kamboja, menjadi pengaruh yang sangat penting dalam perkembangan Kerajaan Funan kedepannya.
Dalam bidang politik seperti yang digambarkan dalam Deskripsi singkat tentang Kerajaan Funan diatas, dijelaskan bahwa Kerajaan Funan memiliki sistem politik yang Feodal, dengan saling menguasai wilayah di Asia Tenggara dan dapat dikatakan bahwa Kerajaan Funan merupakan Kerajaan Adikuasa pada masa itu dengan menguasai seluruh wilayah perairan dan daratan Indocina. Dan Funan  pun memiliki angkatan laut yang sangat kuat sehingga menambah pertahanan Laut Kerajaan Funan semakin kuat di dalam menaklukan wilayah- wilayah yang berada di Asia Tenggara dan sekitarnya. Raja memiliki kekuasaan yang sangat mutlak (Absolut) di dalam menjalankan tata pemerintahan di Kerajaan Funan, sehingga raja sangat ditinggikan statusnya oleh masyarakat Kerajaan Funan, bahkan dapat dianggap sebagai titisan dewa yang sangat dimuliakan.  Sehingga dengan adanya tata pemerintahan dan pertahanan seperti diatas mustahil Funan sebagai The First Arest Power (Asia Tenggara Pranasionalisme :48), Funan dapat ditaklukan oleh Kerajaan- kerajaan lain yang terdapat dipesisir daerah Indocina dan Asia Tenggara, seperti Kerajaan Chenla dan Angkor. Tetapi setelah meninggalnya Raja Rudravarmanpada tahun 550 M, keadaan menjadi terbalik, timbul pergolakan di dalam tata pemerintahan Kerajaan Funan yang akhirnya dapat menggulingkan Funan dibawah penyerangan Kerajaan Chenla, yang menjadi salah satu Kerajaan yang dikuasai Funan pada waktu itu. Sehingga berakhirlah sudah kejayaan Kerajaan Funan sebagai Kerajaan The Man Power di wilayah Asia Tenggara, dan berganti dengan masa pemerintahan Kerajaan Chenla yang telah berhasil menaklukan Kerajaan Funan, sebagai Kerajaan Hindu Purba pertama di Asia Tenggara yang sangat kuat di dalam struktur pemerintahannya.

      Kerajaan Funan mengalami kemunduran pada akhir abad IV karena mendapat serangan dari tentara Kerajaan Chenla tepantya pada masa pemerintahan Raja Rudravarman (550 M) , dengan jatuhnya Kerajaan Funan ini, maka pada abad V terjadilah revolusi Kepercayaan di wilayah Asia Tenggara, yakni di daratan Asia Tenggara mengalami Absolutisme dewa raja yang berpusat pada pendewaan raja (dewa raja kultus). Dan Chenla sebagai penakluk yang berhasil menguasai Kerajaan Funan inilah yang membawa pengaruh kepercayaan ini sehingga secara tidak langsung mulailah berkembang kepercayaan Absolutisme dewa raja, walaupun pada saat pemerintahan Funan pengaruh ini sudah mulai diterapkan tetapi baru berkembang saat perpindahan kekuasaan dari Funan ke Kerajaan Chenla. [4]


Kerajaan Funan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam  perkembangan peradaban Kuno di Indonesia, terutama dalam bidang Kebudayaan dan Kepercayaan setempat yang mulai mengalami perubahan sejak masuknya pengaruh Indianisasi di wilayah Asia Tenggara, sehingga muncul Kerajaan- kerajaan yang mendapat pengaruh dari Agama Hindu dan Buddha di Indonesia. Bukan hanya itu pengaruh dalam bidang Kebudayaan dan Kepercayaan pun masyarakat Indonesia mengalami perubahan, dalam bidang Kebudayaan pengaruh Funan sangat terlihat dari barang- barang peninggalan sejarah yang ditemukan seperti Nekara, Tembikar,dan barang- barang yang terbuat dari perunggu yang pada masa Kerajaan Funan menjadi salah satu Komoditi barang dagang yang paling terkenal, sehingga secara tidak langsung pengaruhnya sampai ke Indonesia, yang juga erat dengan perkembangan Kebudayaan Dong Son di Indonesia.      
Dalam bidang Religi dan Kebudayaan yang dapat dilihat dari pengaruh Kerajaan Funan terhadap perkembangan peradaban masa Kuno di Indonesia, yang utama adalah masuknya pengaruh Indianisasi ke Indonesia yang mengubah segala jenis Kepercayaan (Religio Naturalism), beralih kepada Kepercayaan Agama Hindu- Buddha, sehingga di Indonesia muncul banyak Kerajaan bercorak Hindu- Buddha yang sangat kental hubungannya dengan pengaruh dari Kerajaan Funan dan India. 




[1] Hall, D.G.E, 1979:34. Sejarah Asia Tenggara


[2] Sumaryono, 2006. SEJARAH ASIA TENGGARA 1, jember : FKIP Universitas Jember hlm. 5


[3]  peristiwa ini mungkin yang menjadi alasan mengapa didapatnya pengaruh Pallawa yang kuat di Kamboja, Campa dan Semenajung Melayu. Dan juga mengapa prasasti-prasasti dalam jaman itu tertulis dengan huruf  pallawa.
 [4] Kardiyat Wiharyanto Asia Tenggara Zaman Pranasionalisme,

Jumat, 16 November 2012

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno (Bhumi Mataram) pada awalnya terjeltak di Jawa Tengah. Derah Mataram dikelilingi oleh pegunungan seperti Pegunungan Serayu, Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, Pegunungan Kendang, Gunung Sewu dan Gunung Kidul. Daerah ini juga banyak mengalir sungai besar seperti: Sungai Progo, Bogowonto, Elo dan Bengawan Solo. a. Sejarah dan lokasi Kerajaan Mataram kuno (Mataram Hindu) didirikan oleh Sanjaya (732-760 M) dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya. b.Sumber Sejarah 1. Prasasti Canggal Prasasti yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal berangka Tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala. Menggunakan huruf pallawa dan bahasa sangsekerta. Isi dari prasasti tersebut menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Syiwa) yang merupakan agama Hindu beraliran Siwa di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanya serta menceritakan bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah sena yang kemudian digantikan oleh Sanjaya. 2. Prasasti Balitung/Metyasih/Mantyasih Prasasti ini ditemukan di desa Kedu, berangka tahun 907 M. Prasasti Metyasih yang diterbitkan oleh Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) terbuat dari tembaga.. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan pemberian hadiah tanah kepada lima orang patihnya di Metyasih, karena telah berjasa besar terhadap Kerajaan serta memuat nama para raja-raja Mataram Kuno. c.Kehidupan Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya Dari prasasti Metyasih tersebut, didapatkan nama-nama raja dari Wangsa Sanjaya yang pernah berkuasa, yaitu : 1.Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760 M) Masa Sanjaya berkuasa adalah masa-masa pendirian candi-candi siwa di Gunung Dieng. Kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional. Sanjaya memberikan wejangan-wejangan luhur untuk anak cucunya. Apabila sang Raja yang berkuasa memberi perintah, maka dirimu harus berhati-hati dalam tingkah laku, hati selalu setia dan taat mengabdi pada sang raja. Bila melihat gerak lirik raja, tenagkanlah dirimu menerima perintah dan tindakan dan harus menangkap isinya. Bila belum mampu mengadu kemahiran menagkap tindakan, lebih baik duduk terdiam dengan hati ditenangkan dan jangan gentar dihadapan sang raja. Sanjaya selalu menganjurkan perbuatan luhur kepada seluruh punggawa dan prajurit kerajaan. Ada empat macam perbuatan luhur untuk mencapai kehidupan sempurna, yaitu : • Tresna (Cinta Kasih), • Gumbira (Bahagia) • Upeksa (tidak mencampuri urusan orang lain) • Mitra (Kawan, Sahabat, Saudara atau Teman) Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya mangkat kira-kira pertengahan abad ke-8 M. Ia digantikan oleh putranya Rakai Panangkaran. 2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M) Rakai Panangkaran yang berarti raja mulia yang berhasil mengambangkan potensi wilayahnya. Rakai Pangkaran berhasil mewujudkan cita-cita ayahandanya, Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya dengan mengambangkan potensi wilayahnya. Nasehatnya yang terkenal tentang kebahagiaan hidup manusia adalah : • Kasuran (Kesaktian) • Kagunan (Kepandaian) • Kabegjan (Kekayaan) • Kabrayan (Banyak Anak Cucu) • Kasinggihan (Keluhuran) • Kasyuwan (Panjang Umur) • Kawidagdan (Keselamatan) Menurut Prasati Kalasan, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dibangun sebuah candi yang bernama Candi Tara, yang didalamnya tersimpang patung Dewi Tara. Terletak di Desa Kalasan, dan sekarang dikenal dengan nama Candi Kalasan. 3. Sri Maharaja Rakai Pananggalan (780-800 M) Rakai Pananggalan yang berarti raja mulia yang peduli terhadap siklus waktu. Beliau berjasa atas sistem kalender Jawa Kuno. Rakai Panggalan juga memberikan rambu-rambu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti berikut ini “Keselamatan dunia supaya diusahakan agar tinggi derajatnya. Agar tercapai tujuannya tapi jangan lupa akan tata hidup” Visi dan Misi Rakai Panggalan yaitu selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan. Perwujudan dari visi dan misi tersebut yaitu Catur Guru. Catur berarti empat Guru berarti berat. Jadi artinya empat guru yang mempunyai tugas berat. Catur Guru terdiri dari : • Guru Sudarma, orang tua yang melairkan manusia. • Guru Swadaya, Tuhan • Guru Surasa, Bapak dan Ibu Guru di sekolah • Guru Wisesa, Pemerintah pembuat undang-undang untuk kepentingan bersama Pemberian penghormatan dalam bidang pendidikan, maka kesadaran hukum dan pemerintahan di Mataram masa Rakai Pananggalan dapat diwujudkan. 4. Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M) Rakai Warak, yang berarti raja mulia yang peduli pada cita-cita luhur. Pada masa pemerintahannya, kehidupan dalam dunia militer berkembang dengan pesat. Berbagai macam senjata diciptakan. Rakai Warak sangat mengutamakan ketertiban yang berlandaskan pada etika dan moral. Saat Rakai Warak berkuasa, ada tiga pesan yang diberikan, yaitu : • Kewajiban raja adalah jangan sampai terlena dalam menata, meneliti, memeriksa dan melindungi. • Pakaian raja adalah menjalankanlah dengan adil dalam memberi hukuman dan ganjaran kepada yang bersalah dan berjasa. • Kekuatan raja adalah bisa mengasuh, merawat, mengayomi dan memberi anugrah. 5. Sri Maharaja Rakai Garung (820-840 M) Garung memiliki arti raja mulia yang tahan banting terhadap segala macam rintangan. Demi memakmurkan rakyatnya, Sri Maharaja Rakai Garung bekerja siang hingga malam. Hal ini dilakukan tak lain hanya mengharap keselamatan dunia raya yang diagungkan dalam ajarannya. Dalam menjalankan pemerintahannya Rakai Garung memiliki prinsip tri kaya parasada yang berarti tiga perilaku manusia yang suci. Tri Kaya Parasada yang dimaksud, yaitu : • Manacika yang berarti berfikir yang baik dan benar. • Wacika yang berarti berkata yang baik dan benar. • Kayika yang berarti berbuat yang baik dan benar. 6. Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856 M) Dinasti Sanjaya mengalami masa gemilang pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Dalam Prasasti Tulang Air di Candi Perut (850 M) menyebutkan bahwa Rakai Pikatan yang bergelar Ratu mencapai masa kemakmuran dan kemajuan. Pada masa pemerintahannya, pasukan Balaputera Dewa menyerang wilayah kekuasaannya. Namun Rakai Pikatan tetap mempertahankan kedaulatan negerinya dan bahkan pasukan Balaputera Dewa dapat dipukul mundur dan melarikan diri ke Palembang. Pada zaman Rakai Pikatan inilah dibangunnya Candi Prambanan dan Candi Roro Jonggrang. Pembuatan Candi tersebut terdapat dalam prasasti Siwagraha yang berangka tahun 856 M. Rakai Pikatan terkenal dengan konsepnya Wasesa Tri Dharma yang berarti tiga sifat yang mempengaruhi kehidupan manusia. 7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882 M) Prasasti Siwagraha menyebutkan bahwa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi memiliki gelar Sang Prabu Dyah Lokapala. Tugas utamanya yaitu memakmurkan, mencerdaskan, dan melindungi keselamatan warga negaranya. Pada masa pemerintahannya, Rakai Kayuwangi menuturkan bahwa ada enam alat untuk mencari ilmu, yaitu : 1. Bersungguh-sungguh tidak gentar Semua tutur kata dan budi bahasa dilakukan dengan baik, selaras dan menyatu. 2. Bertenggang rasa Memperhatikan sikap yang kurang baik dengan kebenaran. 3. Ulah pikiran Menimbang-nimbang dengan memperhatikan tujuan kemampuan dan kemauan yang diterapkan harus atas pemikiran yang tepat. 4. Penerapan ajaran Dalam setiap melaksanakan kehendak harus dipertimbangkan, jangan sampai tergesa-gesa. Jangan melupakan ajaran terdahulu, ajaran masa kini perlu untuk diketahui 5. Kemauan Sanggup sehidup semati, mematikan keinginan dan membersihkan diri. Dalam kata lain, tekad dan niat harus dilakukan dantidak segan-segan dalam melakukan pekerjaan 6. Menguasai berbagai bahasa Memahami semua bahasa agar mampu mengatasi perhubungan serta mampu mengakrabi siapa saja. 8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899 M) Sri Maharaja Rakai Watuhumalang memiliki prinsip dalam menjalankan pemerintahannya. Prinsip yang dipegangnya adalah Tri Parama Arta yang berarti tiga perbuatan untuk mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Tri Parama Arta terdiri dari : • Cinta Kasih, menyayangi dan mengasihi sesama makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri. • Punian, perwujudan cinta kasih dengan saling tolong menolong dengan memberikan sesuatu yang dimiliki secara ikhlas. • Bakti, perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud Tuhan, orang tua, guru dan pemerintah. 9. Sri Maharaja Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M) Pada masa pemerintahannya beliau memiliki seorang teknokrat intelektual yang handal bernama Daksottama. Pemikirannya mempengaruhi gagasan Sang Prabu Dyah Balitung. Masa pemerintahannya duja menjadi masa keemasan bagi Wangsa Sanjaya. Sang Prabu aktif mengolah cipta karya untuk mengembangkan kemajuan masyarakatnya. Dalam mengolah cipta karya, tahun 907 Dyah Balitung membuat Prasasti Kedu atau Metyasih yang berisikan nama-nama raja Kerajaan Mataram Wangsa Sanjaya. Serta menjelaskan bahwa pertunjukan wayang (mengambil lakon Bima di masa muda) untuk keperluan upacara telah dikenal pada masa itu. 10. Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M) Daksottama yang berarti sorang pemimpin yang utama dan istimewa. Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, Daksottama dipersiapkan untuk menggantikannya sebagai raja Mataram Hindu. 11. Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M) Rakai Dyah Tulodhong mengabdikan dirinya kepada masyarakat menggantikan kepemimpinan Rakai Daksottama. Keterangan tersebut termuat dalam Prasasti Poh Galuh yang berangka tahun 809 M. Pada masa pemerintahannya, Dyah Tulodhong sangat memperhatikan kaum brahmana 12. Sri Maharaja Dyah Wawa ( 921 – 928 M) Rakai Sumba Dyah Wawa dinobatkan sebagai raja Mataram pada tahun 921 M. Beliau terkenal sebagai raja yang ahli dalam berdiplomasi, sehingga sangat terkenal dalam kancah politik internasional. Roda perekonomian pada masa pemerintahannya berjalan dengan pesat. Dalam menjalankan pemerintahannya Dyah Wawa memiliki visiTri Rena Tata yang berarti tiga hutang yang dimiliki manusia. Pertama hutang kepada Tuhan yang menciptakannya, Kedua hutang jasa kepada leluhur yang telah melahirkannya. Dan ketiga, hutang ilmu kepada guru yang telah mengajarkannya. 13. Sri Maharaja Rakai Empu Sendok (929 – 930 M) Empu Sendok, terkenal dengan kecerdasan, ketangkasan , kejujuran dan kecakapannya. Manajemen dan Akuntansi dikuasai, psikologi diperhatikan. d. Keruntuhan Wangsa Sanjaya Pada abad ke-10, Dyah Wawa mempersiapkan stategi suksesi Empu Sendok yang memiliki integritas dan moralitas sebagai calon pemimpin Mataram. Pada saat itulah pemerintahan Dyah Wawa mengalami kemunduran. Empu Sendok yang memegang pemerintahan setelah Dyah Wawa meninggal merasa khawatir terhadap serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Empu Sendok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur Sumber lain menyebutkan perpindahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur disebabkan oleh meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah. Raja Empu Sindok kemudian digantikan oleh Darmawangsa dan selanjutnya digantikan Oleh Airlangga. NB: Sumber dari blog tetangga sebelah

Mau Nonton TV,,, !!! Liat TV Streaming online

Jumat, 15 Juni 2012


Rencana Penutupan Lokalisasi Puger

Beberapa tahun yang lalu pemberitaan media massa di Jember diramaikan dengan kebijakan Bupati Jember yangmemutuskan penutupan tempat lokalisasi di Puger. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 188.45/39/012/2007. Menurut Ketua Komite Penyandang Kerawanan Sosial Pemkab Jember H. M Fadhallah sepertidikutip
Harian Surya(20/3/2007),

 penutupan lokalisasi itu sebagai wujud dari Jember sebagai kota religius,sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).Selain alasan panduan RPJMD diatas, Fadhallah mengajukan alasan lain atas keluarnya SK bupati tersebut, yakniPemkab Jember hendak memanusiawikan dan meningkatkan martabat Pekerja Seks Komersial (PSK). Cara yangditempuhnya dengan membekali para PSK itu dengan ketrampilan lain berdasarkan minat yang mereka milikimasing-masing, serta memberikan bantuan modal. Pasca pelatihan, para bekas ³kupu-kupu malam´ tersebut akandimagangkan diperusahaan yang ada, atau diberikan modal usaha untuk memutar model tersebut sebagaikebutuhan hidup selanjutnya.Dari data yang ada, lokalisasi PSK yang ada di Kecamatan Puger, Jember jumlah PSK-nya mencapai 169, denganperincian 111 orang Jember sendiri, 58 sisanya berasal dari luar Jember. Dari jumlah tersebut, 93 PSK bernaungdibawah pengelolaan mucikari.Beberapa PSK menyatakan tak berdaya menolak kebijakan Pemkab Jember tadi. Salah seorang diantaranyabernama Erni (33 th). Pilihan untuk melacur terpaksa dilakukkannya, setelah suaminya meninggal dunia. Sementaradia harus menanggung biaya hidup kedua anaknya. ³Semoga pelatihan itu bukan janji manis semata. Saya berharapPemkab Jember memberikan bantuan modal 25 juta, guna membuka usaha jahit menjahit´, ujar Erni kepada harianyang sama.Namun tidak semua PSK di Puger memilih jalur yang dikehendaki Pemkab. Beberapa diantara mereka tampaknyaakan tetap melanjutkan mencari nafkah dengan tetap menjadi PSK. Penutupan lokalisasi Puger oleh Pemkab,ternyata membawa konsekuensi tersendiri, yaitu praktik prostitus ³liar´. Sedangkan Pemkab Jember belum memilikiantisipasi atas dampak penutupan itu.Sementara di kalangan mucikari, berniat akan bertahan di lokalisasi Puger. Walau mereka sadar bahwa tanah yangmereka gunakan untuk penyewaan kamar bagi para PSK itu adalah tanah negara. Alasannya, penempatan lokalisasidi Puger awalnya juga karena kebijakan dari Pemkab Jember.Sebab sebelum dilakukan relokasi oleh Pemkab Jember pada tahun 1989, lokalisasi awalnya berada di Kaliputih,Kecamatan Rambipuji. Beberapa mucikari bersaksi, dulu sebelum direlokasi ke Puger, mereka memiliki rumah diKaliputih. Karena kebijakan relokasi, maka mereka harus menjual rumah. Di Puger, pemerintah tidak menyediakanrumah baru, apalagi tanah yang ada milik negara. Di tengah keraguan itu, maka para mucikari mendirikan rumah darihasil penjualan rumah yang ada di Kaliputih.

Setelah menempati lahan barunya di Puger, beberapa anggota DPRD Jember pernah berjanji kepada para mucikari,akan memperjuangkan tanah yang mereka tempati itu agar menjadi miliki mereka, dengan dimintakan kepadaPemkab Jember. Seperti lagu lama kalangan wakil rakyat: janji tinggal janji, tanpa realisasi, yang ada bualan kosong.Justru pada tahun 2002, Bupati Jember membuat kebijakan lokalisasi Puger dijadikan Tempat Pelayanan SosialTransisi (TPST). SK bupati ini sebenarnya mengacu pada Perda Nomor 14 tahun 2001 tentang pelaranganpelacuran dan prostitusi di Jember. Melalui SK tersebut, TPST dipersiapkan hingga lima tahun keberadaannya,setelah lima tahun akan ditutup permanen. Dan penutupan permanent TPST Puger ini akan berlaku efektif per 1 April2007.
Sayangnya, saat penetapan lokalisasi Puger menjadi TPST Puger, Pemkab Jember tidak menyertai dengan usahaintegratif yang berkelanjutan bagi para PSK dan mucikari. Mereka tidak diarahkan untuk dapat menempuh jalur laindalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Dari kesaksian para PSK dan mucikari, pemberian bekal ketrampilan yangselama ini dilakukan di TPST Puger berjalan dengan proses gonta-ganti program. Akibatnya banyak kalangan PSKyang belum matang mendapatkan ketrampilan khusus lainnya. Ancaman lain mungkin akan terjadi, yakni kemungkinan persebaran HIV/AIDS di Kabupaten Jember. Sebab dari datayang didapatkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Jember menyebutkan, tercatat 29 PSK Puger telah mengidapHIV/AIDS. Dan ke 29 PSK tersebut belum pernah mendapatkan layanan pengobatan dan konseling. Jika lokalisasiPuger ditutup -ini membuka kemungkinan praktek prostitusi liar- maka proses penularan HIV/AIDS tak dapatdikontrol. Dibandingkan dengan saat mereka berada di lokalisasi Puger, kontrol terhadap pengidap penyakitmematikan itu menjadi lebih mudah.
Sikap Arif 
Kebijakan Bupati Jember ini tampaknya tidak saja membuat para PSK dan mucikari cemas, tetapi juga menimbulkanpolemik di kalangan masyarakat Jember. Koalisi Penyelamat Perempuan yang terdiri dari beberapa organisasiseperti Wanita PKS, KAMMI, Persaudaraan Muslimah, Yayasan Mutiara Bunda, dan Auladuna mendukung kebijakanBupati Jember. Kelompok ini beralasan bahwa penutupan itu dapat meningkatkan harga dan martabat manusia.Semantara
Gerakan Peduli Perempuan (GPP), yang terdiri dari Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak, Koalisi Perempuan Indonesia, Komite Independen Perempuan dan Anak untuk Aksi Sosial, serta
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menolak penutupan lokalisasi Puger. Bahkan polemik ini juga telah mengundang KH Hamid Hasbullah yang selama ini dikenal dengan kiai yang dekat dengan para petani. Ia meminta kepada Pemkab Jember untuk segera merealisasikan penutupan lokalisasi Puger. Namun, Kiai Hamid tetap memberikan catatan kepada Pemkab Jember agar proses penutupan itu disertai dengan pembinaan terhadap PSK secara serius, sehingga para PSK tersebut benar-benar memiliki ketrampilan alternatif untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.Tampaknya penutupan lokalisasi, dengan alasan moralitas semata telah menjadi lagu lama. Dalam banyak kasus diberbagai tempat, penutupan lokalisasi tidak disertai dengan kebijakan lanjutan dengan konsep yang matang,termasuk juga menyerap aspirasi dari kalangan PSK. Jika cara penutupan lokalisasi seperti yang terjadi di Puger ini,maka kemungkinan akan adanya persoalan baru pasca penutupan tidak akan terhindarkan lagi. Persoalan itu sepertisedikit saya singgung diatas, yakni soal munculnya prostitusi liar di banyak tempat. Karena para PSK memilihbersembunyi dan petak umpet untuk menghindari pengawasan aparat negara. Akibatnya, semakin besar potensipersebaran penyakit kelamin dan HIV/AIDS.Jadi, kita harus hati-hati dan bersikap arif dalam membuat kebijakan, tidak sekadar asal tutup. Sebab PSK jugamanusia. Perlulah kita mendengar nestapa batin mereka.*Pendamping Komunitas Sub Altern

Oleh Paring Waluyo Utomo

Senin, 19 Maret 2012

Sunan Bonang

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Silsilah

Terdapat silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad:[rujukan?]

Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uradhi bin
Ja'afar As-Sodiq bin
Muhammad Al Baqir bin
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad)

Karya Sastra

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Apa pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.

Keilmuan

Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan[rujukan?] yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia

Referensi
B.J.O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang, Utrecht: Den Boer
G.W.J. Drewes, 1969, The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff